Ironis, Tower dan Bak Air Dibangun Permanen, Guru Mandi Dibuluran

by

Lintasbengkulu.com – Kaur, Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, seperti pembangunan gedung sekolah, serta pasiliatas pendukung lainnya dirasa sangatlah perlu dalam menunjang kegiatan proses belajar dan mengajar. Begitupun untuk Perumahan Dinas guru dan kelengkapannya di anggap hal yang wajar dan penting untuk diperhatikan agar lebih nyaman ditempati.

Seperti halnya Sekolah SMA Negeri 10 di Kabupaten Kaur ini, yang di kenal sebagai sekolah ber-Asrama. Sekolah ini  ditempati oleh siswa dan beberapa guru pengajarnya. Jadi sangat penting pasilitas siswa yang tinggal di Asrama dan pasilitas guru yang tinggal di Perumahan Dinas ini di perhatikan.

Dari pantauan lintasbengkulu.com, Sabtu (13/8/2016)  pembangunan Rumah Dinas Guru sekolah SMA Negeri 10 Kabupaten Kaur yang beralamat di desa Jembatan Dua Kecamatan Kaur Selatan itu, hingga saat ini belum 100% selesai dikerjakan. Seperti halnya sumur (air bersih) saat ini belum ada. Sangat ironis, padahal tower dan bak penampungan air sudah di siapkan secara permanen, namun tidak dapat dimanfaatkan, karena ketiadaan sumber airnya.

Bukan itu saja, dari pantauan media ini dilapangan, pada  rumah dinas Guru tersebut, KWH Listrik juga belum terpasang. Begitupun dengan beberapa lampu hias yang ada pada bagian tiang depan juga tidak dipasang. Padahal sebagian kabel untuk jaringan lampu hias tersebut telah di siapkan.

Hal yang sama juga terjadi pada pembangunan Rumah Dinas guru sekolah SMK Negeri 07  di Desa Bakal Makmur Kecamatan Maje. Terlihat bangunan rumah dinas guru ini telah di tempati. Akan tetapi, anehnya tower serta tong air yang sudah berdiri megah, namun sumber air bersihnya juga tidak ada.

Nuh (40) salah seorang guru pembimbing alias guru pengasuh yang menempati perumahan dinas Guru di SMK o7, kepada lintasbengkulu.com mengatakan, bahwa mereka mandi pada air anak sungai (buluran). Sementara untuk air minum meraka beli air isi ulang (galon).

“Karena belum ada sumurnya, kami mandi di Buluran (anak sungai-red), kalau untuk air minum terpaksa kami beli air gallon isi ulang,” ungkap Nuh kepada lintasbengkulu.com.

Terpisah, salah seorang warga Desa Bakal Makmur,  Ferdiansyah (45), ditemui media ini mengatakan, bahwa dirinya beranggapan pembangunan Rumah Dinas Guru ini merupakan  hal yang aneh tapi nyata.

“Kenapa tidak aneh, tower dan bak air di rencanakan, sementara sumber airnya seperti sumur galian atau sumur bor nya koq tidak di rencanakan. Lucu dong Konsultan perencanaannya ini,” ujarnya.

Kalau begitu caranya sambung Ferdiansyah, untuk apa pungsi bak serta tower itu, sehingga pada akhirnya tidak bermanpaat, demikian Ferdiansyah. (Rez)  

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *