Lapak PTM Tanjung Alam Kedurang Ditinggal Pedagang

by
Kondisi PTM Tanjung Alam

//Lokasi Sempit Pedagang Pasar Amburadul & Merugi//
LINTASBENGKULU.COM, BS – Karena lokasi untuk berjualan tidak memungkinkan alias sempit, hampir seluruh pedagang di Pasar Tradisional Modern (PTM) desa Tanjung Alam, Kecamatan Kedurang ini enggan menempati lokasi (lapak) yang telah disediakan Pemerintah.

Menurut salah seorang pedagang Bakso yakni Ikman (45), sejak dibangunnya gedung Pasar Tradisional Modern (PTM) di desa Tanjung Alam Kedurang tersebut, mayoritas pedagang enggan menempati dan memilih untuk berjualan diluar gedung.

Situasi di luar PTM sekitar pukul 06.01 WIB

Hal ini kata dia, disebabkan faktor lokasi lapak yang mereka tempati itu tidak sesuai kebutuhan pedagang. Begitupun dengan para pembeli, mereka enggan masuk pasar dikarenakan lalu lalang juga sangat sempit.

Selain itu tambah Ikman, karena bangunan meja lapak tempat berjualan didalam gedung tersebut sangat tinggi (setinggi dada) sehingga pedagang melayani para pembeli harus duduk diatas meja.

Kondisi Lapak PTM terlihat pedagang sebelah kanan duduk diatas meja lapak menunggu para pembeli

“Dengan lokasi tempat berjualan bekakup (padat dan sempit) jualan kami tidak laku, karena pembeli susah lewat pada saat waktu ramai. Sehingga kami para pedagang memilih untuk berjualan di luar gedung PTM ini, walau tempatnya amburadul,” kata Ikman kepada lintasbengkulu.com, Sabtu (05/01/2019).

Lapak PTM dibiarkan kosong oleh para pedagang

Beberapa pedagang banyak yang tidak kebagian tempat, sehingga para pedagang ada yang tidak jadi berjualan alias pulang, sementara tempat berjualan didalam gedung PTM dibiarkan kosong melompong, ujarnya.

Tampak para pedagang berjualan diluar PTM sebagian diantaranya memilih pulang

Lanjut Ikman, diantaranya beberapa pedagang ada yang berjualan dari atas mobil. Adapun yang sudah mendapat tempat strategis diluar gedung, namun untuk berjualan kembali pada minggu depannya tidak diperbolehkan lagi, lalu di usir oleh pengelola pasar dengan alasan akan di tempati untuk parkir kendaraan pengunjung pasar. “Terus kami harus berjulan dimana agar dagangan kami ini laku,” keluh Ikman.

Akibatnya, Ikman bersama istrinya yang setiap hari Sabtunya berjualan bakso di pasar Tanjung Alam ini harus merugi karena dagangannya tidak laku. Biasanya misal kata Ikman, “penghasilan kotor kami sampai Rp 1 juta, kini tinggal hanya berkisar dua sampai tiga ratus ribu lagi,” terang Ikman di iyakan Istrinya Boti.

Pedagang pasar PTM Tanjung Alam Kecamatan Kedurang ini berharap, agar pemerintah Bengkulu Selatan dapat langsung turun ke lokasi untuk memantau kondisi yang sebenarnya. Sebab kondisi seperti ini dikhawatirkan berpotensi rawan terjadi kericuhan antara para pedagang dan pengelola pasar. (And)