Menyiapkan pesaing buat pasangan Ahok-Djarot di pilkada DKI Jakarta

by
foto BBC
foto BBC
foto BBC
foto BBC

Sehari setelah PDI Perjuangan mengumumkan dukungannya terhadap pasangan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan Djarot Syaiful Hidayat untuk maju dalam pilkada DKI Jakarta, partai-partai yang tergabung dalam Koalisi Kekeluargaan pun ikut menyiapkan strategi dan calon untuk melawan pasangan petahana itu.

Pendaftaran pasangan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan Djarot Syaiful Hidayat ke KPUD DKI Jakarta dengan didampingi oleh Ketua umum PDI-P Megawati Soekarnoputri seolah menguatkan dukungan bagi pasangan tersebut untuk maju sebagai calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta.

PDI-P menjadi partai keempat, setelah Golkar, Hanura, dan Nasdem yang memberikan dukungan kepada Ahok-Djarot.

Lalu bagaimana dengan partai-partai lain, seperti PAN, PPP, Gerindra, PKB dan PKS yang tergabung dalam Koalisi Kekeluargaan? Ketua DPW PAN DKI Jakarta Eko Hendro Purnomo mengatakan, baik strategi maupun kandidat yang akan mereka ajukan dalam pilkada ini “masih sangat cair”.

“Kita solid, Koalisi Kekeluargaan, walaupun notabene sudah ditinggal oleh PDI-P. Kami sekarang sedang mengatur strategi, apakah akan head to head, ataukah ada tiga kandidat dengan Ahok, tentunya. Malam ini (Rabu, 21/09) diputuskan, besok diumumkan (Kamis, 22/09),” kata Eko.

Dia juga menegaskan bahwa Koalisi Kekeluargaan “tidak pernah ngomongin soal SARA dan sebagainya” dalam berkampanye.

“Justru itu yang kita sayangkan, kebijakannya (Ahok) tidak prorakyat, kan harusnya ada solusi, ada komunikasi yang dibangun, dan sebagainya,” kata Eko.

Salah satu nama kandidat yang disebut-sebut akan diajukan oleh Koalisi Kekeluargaan adalah Anies Baswedan, sebagai kemungkinan calon wakil gubernur untuk mendampingi kandidat calon gubernur Partai Gerindra, Sandiaga Uno.

Menanggapi rumor ini, Anies mengatakan, “Saya diundang (partai politik), dibicarakan (kemungkinan menjadi calon gubernur) tapi belum ada keputusan. Karena keputusan bukan di tangan saya,” jelas Anies.

“Yang memutuskan (pencalonan) itu partai politik. Kalau mengumpulkan tanda tangan (dukungan) itu kan tidak mungkin dalam dua hari,” tambah Anies, mengacu pada batas akhir pendaftaran calon gubernur untuk partai politik, 23 September mendatang.
Segmen pemilih

Sementara itu, anggota PKS Mardani Ali Sera yang sudah diajukan oleh PKS sebagai kandidat calon wakil gubernur untuk Sandiaga Uno mengatakan, partainya sudah menyiapkan strategi khusus untuk merebut suara dan popularitas dari pasangan Ahok-Djarot, terutama dengan menyasar kelas menengah perkotaan yang tak terpengaruh isu SARA.

“Ada tiga tipe pemilih, 25% itu Ahok-ers, pendukung berat Ahok, 30% itu sebaliknya, kita tidak main di dua segmen ini, tapi kita main di segmen tengah yang 40-45% yang kosmopolit, rasional, open mind, tidak menganggap pilkada pertarungan agama, tapi ini adalah beauty contest. Ini adalah tempat kita mengarahkan sasaran. Tentu Pak Ahok, Pak Djarot, punya kemenangan dalam hal track record, tetapi (pemilih) di 40-45% itu masih bisa diajak dialog,” kata Mardani.

Beberapa orang yang ditemui BBC Indonesia tampaknya menguatkan sentimen bahwa popularitas Ahok dalam pilkada kali ini sepertinya tak mutlak.

Nandes, misalnya, yang mengatakan, “Gubernur Jakarta, yang pertama, yang Muslim dulu yang saya pilih, kalau bukan Muslim nggak saya pilih, yang kedua yang amanah, jujur, yang adil.”

Sementara warga lain, Sumanta mengatakan, dia mencari gubernur DKI Jakarta yang, “Jangan terlalu arogan, milih rakyat kecil, jangan asal gusur-gusur aja. Saya sudah nggak milih Ahok lagi, nyari yang baru aja.”

KPUD DKI masih membuka pendaftaran calon gubernur dan calon wakil gubernur sampai Jumat (23/09).

Beberapa nama lain yang beredar sebagai calon gubernur dalam pilkada DKI kali ini termasuk Sandiaga Uno, Yusril Ihza Mahendra, dan mantan Menteri Koordinator Kemaritiman, Rizal Ramli. (source: BBC)