Pembangunan Dermaga Linau Diduga Asal Jadi

by

Lintasbengkulu.com – Karena pekerjaan belum selesai seratus persen, dan masa kontrak kerja pada tahun 2015 sudah habis. Maka pekerjaan Dermaga pelabuhan Linau Di Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu ini kembali dilanjutkan pada tahun 2016.

Pekerjaan lanjutan ini masih dilaksanakan oleh PT. SUMINDO (Sumtera Indah Indonesia). Dermaga pelabuhan dilaut Linau tersebut akan dibangun Berstandart Nasional.  Yang direncanakan akan di pergunakan untuk tempat keluar dan masuknya kapal barang kapasitas besar.

Untuk tahun  2015 yang lalu, Proyek Pembangunan Dermaga Linau itu menghabiskan dana  Rp 33.5 Miliar, namun tidak selesai. Sementara untuk proyek lanjutan pada tahun 2016 ini, oleh Pemerintah pusat melalui Dirjen HUBLA (Perhubungan Laut) Kementerian Perhubungan RI, kembali mengocorkan dana sebesar Rp 33.7 Miliar.

Namun sangat disayangkan, diduga pengerjaan Proyek pembangunan Dermaga pelabuhan Linau ini dikerjakan asal-asalan, sehingga puluhan Miliar Rupiah dana yang dikeluarkan Pemerintah pusat dari APBN ini akan sia-sia.

“Dari hasil pantauan kami dilapangan, pembangunan Dermaga, serta pasilitas pelabuhan seperti halnya lantai penumpukan barang serta pemancangan tiang dermaga ter-indikasi tidak sesuai kontrak dan tidak sesuai dengan petunjuk teknis, kata Reza, salah seorang Warga Kabupaten Kaur kepada lintasbengkulu.com Jum’at (12/8/2016).

Kalau pelabuhan ini dikerjakan  asal jadi dan tidak sesuai dengan petunjuk teknis, sehingga pada akhirnya mutu maupun kualitas bangunan tidak terjamin. Dan puluhan Miliar Rupiah  anggaran Negara yang di pergunakan akan sia-sia, ujarnya.

Dilanjutkan Reza, berdasarkan pantauannya di lokasi proyek Dermaga Linau tersebut, lantai penumpukan barang yang sudah dikerjakan itu di anggap masih gagal konstruksi. Sebab, ketika hujan kondisi lantai tergenang air, hal itu di sebabkan lantai tidak rata (cekung).

“Berdasarkan keterangan dari sumber kami yang dapat dipercaya, semestinya di bawah lantai tersebut, sebelum di pasang cor beton harus di lapis dengan pasir batu (sirtu) dari koral sungai. Lalu dilakukan pemadatan dengan menggunakan alat berat.  Namun pihak kontraktor dalam hal ini diduga menggunakan pasir pantai yang diambil dari lokasi proyek, bukan pasir batu sungai, sehingga beberapa titik menjadi cekung dan tergenang air,”  bebernya.

Selain itu kata Reza, pemasangan tiang pancang Dermaga Linau tersebut, dirinya menilai pola yang dilakukan, yaitu memakai teknis pemancangan darat, bukan teknis pemancangan laut. Sehingga kekuatan dermaga Linau masih diragukan, kata Reza.

Ditambahkan Reza, dari informasi sumber yang dipercayanya, Cren Hamer yang di pakai untuk pemasangan tiang pancang Dermaga tersebut, bobotnya hanya berkisaran 5.350 Kg atau sekitar Lima Ton. Seharusnya bobot Cren Hamer dipakai lebih dari bobot tersebut. Kemudian  ukuran  diameter lingkaran tiang pancang,  dan merk tiang pancang yang mereka gunakan itu di duga tidak sesuai dengan Spesifikasi dan dibawah standart yang di butuhkan, jelasnya.

Menurut impormasi dari Yulyanda Gustiarsyah,S.Ikom sambung Reza, ada sekitar 9 unit tiang pancang yang tidak terpasang. Ke-sembilan tiang pancang tersebut saat ini berada di dalam laut dekat dermaga. Tiang pancang itu diduga sengaja diceburkan kelaut oleh pihak Kontraktor. Hal ini diduga juga sengaja dilakukan untuk menghindari sesuatu dan lain hal. “Harga pancang tersebut berkisar Rp 400 juta per-unit. kalau di kali 9 maka uang rakyat yang sia-sia Rp 3,9 Miliar,” pungkas Reza. (Cw2)