Urung Kedewan, 6 Guru Teknis Kejuruan SMKN 3 BS Tandatangani Surat Pernyataan Mundur

by
Ilustrasi
Ilustrasi

 

Lintasbengkulu.com, Bengkulu Selatan – Adanya rencana beberapa tenaga guru honorer kejuruan di SMKN 3  Bengkulu Selatan (BS) yang akan mengaduhkan nasibnya  kedewan hari ini akhirnya dibatalkan. Dari hasil kesepakatan 6 orang guru teknis ini berhenti mengajar dengan membubuhkan tandatangan pada surat pernyataan yang dibuat bersama.

Menurut Deko Rio Putera, salah seorang guru honorer yang mengundurkan diri sebagai guru teknis di SMKN 3 BS ini, dibatalkannya rencana ngaduh ke DPRD tersebut karena banyak pertimbangan.

“Kami tidak jadi ke DPRD, dari hasil kesepakatan dengan kawan-kawan, niat untuk mengadu ke dewan itu akhirnya di batalkan, karena banyak pertimbangan,” kata Deko Rio Putera kepada lintasbengkulu.com,  Jumat (23/9/2016).

Disampaiakannya, dari  hasil kesepakatan tersebut, mereka merasa keinginan yang bakal disampaikan akan sia-sia saja, dan tidak akan membuahkan hasil. Sebab kata Deko, saat mereka menjadi tenaga honor di sekolah SMKN 3 itu bukan atas permintaan pihak sekolah, baik dinas maupun Pemerintah.

“ Kami mengajar disitu bukan permintaan pihak sekolah, maupun dinas Dikpora atau direkrut Pemerintah Daerah. Kami sendiri yang mengajukan untuk menjadi tenaga honorer di SMKN 3 Seginim Bengkulu Selatan ini. Jadi percuma kalau kami mengaduhkan nasib kami kedewan,” ujar Deko.

Dengan kesepakatan itu tambah Deko, dirinya dan 5 orang temannya, kemarin (Kamis, 22/9/2016) resmi mengundurkan diri sebagai tenaga pengajar honorer di SMKN 3 Bengkulu Selatan ini yang dituangkan dalam surat pernyataan yang sudah diserahkan kepada pihak sekolah. Mulai hari ini  Jumat (23/9/2016), 6 orang guru tekhnis ini tidak lagi mengajar di SMKN 3 Seginim. Sementara beberapa guru umum lainnya sudah dahuluan mengundurkan diri.

“Mulai  hari ini kami tidak lagi masuk kerja. Kalau kami memaksakan tetap menjadi tenaga honorer dengan gaji 10 ribu perjamnya ini apa kata orang. Dengan mau dibayar 10 ribu perjamnya itu bearti kami benar-benar mengemis dengan pekerjaan sebagai tenaga guru honorer ini. Bahkan mulai bulan Juli sampai bulan September  2016 ini, gaji 10 ribu perjamnya itupun baru dibayar satu bulan. Apa bisa kami hidup kalau seperti ini, uang bensin saja tidak cukup, ya bagaimana lagi terpaksa kami berhenti dan mencari pekerjaan lain,” tutup Deko dengan nada kesal.

Selain berdampak terhadap banyaknya guru honorer yang berhenti menjadi tenaga pengajar. Informasi diperoleh, hal ini juga berdampak pada beberapa kegitan sekolah yang dihapuskan, seperti kegiatan ekstra kesenian, olahraga dan lainnya. (tom)